Jumat, 14 April 2017

Mengapa Ada Ketidaksetaraan Gender


Kesetaraan Gender = Keadilan bagi Perempuan?

Saat ini sudah banyak perempuan yang bekerja, sepertinya mereka sudah maju. Tetapi bahwa diseluruh dunia rata-rata perempuan hanya mendapat 70% dari gaji laki-laki.

Saat ini juga banyak perempuan yang bekerja dipemerintahan, parlemen, perusahaan hingga partai politik. Tetapi hampir dari mereka semua tidak duduk pada kursi pengambil keputusan. Maka melihat kenyataan ini, apakah telah terwujud kesetaraan gender diantara perempuan dan laki-laki?

Jawabannya adalah “Belum”.

Lalu mengapa masih ada kesenjangan?

Kesetaraan gender tidak bisa diwujudkan hanya dengan membuka kesempatan bagi perempuan. Masalah yang menghambatnya pelik dan mendasar, ini menyangkut cara pandang dan pola pikir.

Istilah gender sendiri diciptakan untuk membedakan dari jenis kelamin secara biologis. Jenis kelamin mengacu pada kriteria fisiologis dan biologis, seperti jenis kelamin, hormon serta kromoson.

Sementara itu gender mengacu pada konstruksi sosial atas peran, perilaku, aktivitas serta atribut yang ditentukan oleh masyarakat yang dianggap tepat untuk jenis kelamin tertentu.

Dalam masyarakat patriarki, gender secara tradisional digambarkan sebagai sesuatu yang berganda dan polar. Tingkah laku dan kepatutan ditandai sebagai khas laki-laki dan perempuan. Ada pemisahan dan pengkutuban.

Dalam masyarakat patriarki, laki-laki ada diposisi atas, pemimpin dan pegambil keputusan. Sementara itu perempuan berada dibawah mengikuti apa yang telah diatur.

Di dunia kerja laki-laki adalah bos, perempuan adalah sekretaris. Laki-laki adalah pilot dan perempuan adalah pramugari.

Posisi hierarki terutama terjadi pada rumah tangga. Laki-laki didepan sebagai kepala rumah tangga, sedangkan perempuan dibelakangnya. Gambaran kita tentang laki-laki dan perempuan serta apa yang mereka lakukan adalah politik dan pandangan masyarakat dari tempat kita tinggal.

Disini ada proses yang disebut dengan Doing Gender. Kita melakukan gender ketika menempatkan jenis kelamin sebagai dasar dan pembeda. Saat bayi lahir hal pertama yang dilakukan oleh dokter adalah melihat alat kelaminnya. Tindakan ini tidak ada kepentingan pada hal medis., melainkan bagian dari doing gender tadi. Setelah bayi diberikan kepada keduaorangtua, giliran orangtua melakukan gender, mereka mengidentikan laki-laki dengan warna biru dan perempuan berwarna pink sebagai khas gender. Warna menjadi symbol sekaligus pembeda.

Setiap individu selalu doing gender. Mereka selalu melakukan penyimpangan dari performa yang diterima secara sosial. Dengan melakukan gender kita mengkuat keyakinan bahwa hanya ada dua kategori gender, yang saling berlawanan pada dasarnya berbeda.

Kita terus menerus di evaluasi oleh orang lain dengan menggunakan barometer gender. Oleh karena itu gender dikatakan omni-relevan yang berarti orang yang selalu menilai perilaku kita untuk menjadi laki-laki dan perempuan.

Dalam interaksi individual masyarakat pelajar apa yang diharapkan, melihat apa yang diharapkan untuk bertindak serta beraksi dengan cara apa yang diharapkan. Dengan demikian, secara serentak kita dikonstruksi dan dipertahankan atas perintah gender.

Stereotipe tentang apa yang diharapkan kehasratan laki-laki dan perempuan diperkuat imaji yang muncul di media, berita, materi pendidikan dan lain hal sebagainya. Laki-laki harus melakukan hal-hal yang masukin, oleh kelas mapan laki-laki adalah seorang bos, bekerja dikantor, memiliki rumah, mobil, isiti dan dua anak, persis seperti di iklan-iklan.

Sementara bagi perempuan, mereka harus memerankan hal-hal yang feminim, seperti melayani anak dan suami, menjadi ibu rumah tangga, menjadi cantik. Ini juga persis dengan gambaran iklan-iklan produk rumah tangga. Seperti sabun cuci, bumbu masak, alat pembersih rumah tangga hingga kosmetik.

Feminis dan maskulin sebanarnya majemuk banyak bentuknya. Apa yang di definisikan sebagai perbedaan antara feminis dan maskulin ditentukan oleh faktor-faktor etnis, agama, kelas, budaya bangsa, orientasi seksual, serta berbagai faktor sosial lainnya.

Apa yang dimaknai dari feminis dan maskulin dinilai oleh kultur yang berbeda. Ekspresi serta peran feminis dan maskulin sesungguhnya merugikan semua pihak. Baik laki-laki maupun perempuan dan anak-anak.

Hidup kita menjadi dibelenggu oleh keharusan-keharusan dan tuntutan-tuntutan bukan atas dasar kebebasan dan ekspresi pribadi. Kenyataan juga menunjukkan sifat laki-laki dan perempuan tidak berada pada dua kitub yang bersebrangan, ada gradasi percampuran dan juga variasi.

Kehadiran kelompok trangender dan interseksual, misalnya : adalah realitas yang ada dimasyarakat dan tidak di akomodasi oleh cara pandang patriarki. Proses melakukan gender termasuk hubunganna subordinasi perempuan telah mencengkram kuat, dilegitimasi, peraturan dan undang-undang, ilmu pengetahuan, kebijakan serta nilai-nilai yang diciptakan oleh masyarakat.

Dalam struktur sosial ini, tujuan gender adalah membangun perempuan sebagai kelompok yang berbeda dibawah laki-laki. Norma-norma gender dan harapannya ditegakan melalui sanksi-sanksi informal atas perilaku gender yang dianggap tidak pantas oleh kelompok, serta melalui hukuman formal oleh pemilik otoritas.

Maka kita paham, kesenjangan gender bukan akibat dari jenis kelamin, fisiologi, hormon atau kecenderunagn genetik. Kesetaraan gender adalah produk dari konstrusi sosial di masyarakat, ia tidak bisa diselesaikan hanya sebatas memberi kesempatan, tetapi cara pandang kita harus berubah.


(Robiatul Adawiyah/Wiwi)

Sabtu, 08 April 2017

Ketiadaanmu adalah Keberadaanmu


Sajak
“Ketiadaanmu adalah Keberadaanmu”

Pada bingkai sajak usai
Roda dua
Trotoar
Kopi hitam
Nyanyian
Dan sepasang kursi bermesraan
Adalah kebermutuan cerita.

Kini,
Ketiadaanmu adalah keberadaanmu.
Di roda dua
Trotoar
Kopi hitam
Nyanyian
Dan sepasang kursi bermalasan
Ada kau yang menyerupai.
Nyaris persis,
Sosokmu menjelma pada alam
Dalam ketiadaan ada keberadaanmu.
Pada diriku ada dirimu,
Aku adalah kamu,
Sementara,
Nalar masih berupa kemungkinan.


Jakarta, 06 April 2017

Selasa, 04 April 2017

Gara-gara Aku, Ibuku Mati



Dewi tahu, ia tak punya ibu sejak ia dilahirkan. Mengapa orang-orang sekitar berulang kali menanyakan perihal ibunya? Bedebah, mereka terlalu usil mengungkit riwayatnya. Bukankah itu sudah takdir, yang tak mungkin terulang kembali seperti waktu yang tak mungkin mundur ke belakang walau hanya sepersekian detik saja? Dewi yang piatu tak pernah menyusu pada siapa pun. Ia diasuh bapaknya dan neneknya, serta kasih sayang tiga saudara laki-lakinya. Dewi anak terakhir dari empat besaudara. Ketiga saudaranya laki-laki. Namun demikian, perasaan-perasaan sebagai anak terkasih teramat perih, berawal dari peristiwa itu.

Peristiwa? Kejadian? Kenyataan itu harus ia alami hingga kini, sampai detik ini, bahkan sejak ia berusia 3 bulan, tinggal di rumah kecil penuh kasih yang membuatnya tak mengenal perasaan kehilangan. Ketiga saudara laki-lakinya, Faisal, Aldi dan Aldo si kembar, berlomba-lomba saling membahagiakannya. Begitupun neneknya yang sangat setia menimangnya, mengasuh, mendidik, mencurahkan seluruh kasih sayangnya pada Dewi.

Nikmat mana lagi yang kau dustakan, wi?

“Nek, bapak kemana?” Ia sesekali mempertanyakan keadaan bapaknya yang entah di mana adanya. Nek Sopiyah hanya mampu menahan air mata yang hendak tumpak ke wajah keriputnya, menjelang usia 95 tahun ia sangat tegar menghadapi peristiwa itu.

Dewi melamun di pojok warung kopi. Hari masih sangat dini. Musik pop mengalun seirama perasaannya, menggetarkan secangkir kopi di atas meja. Menurut Bu Inah, pemilik warung kopi, lidahnya mengenal rasa kopi dari kebiasaan bapaknya yang suka ngopi. Padahal ketiga saudara laki-lakinya hampir tak suka ngopi, hanya sesekali mersakan harumnya kopi saat ibunya menyodorkan kopi untuk bapaknya sesaat sebelum berangkat kerja.

Pak Madi, bapaknya sudah mengenal kafein cair itu sejak masih sekolah dasar. Kebiasaannya mengopi tertular pada anak bungsunya. Kini ia menggemari kopi. Padahal Ibunya pun tidak suka kopi. Bahkan Nenek tak pernah menyiapkan kopi, kecuali untuk kakek yang tak pernah dikenalnya. Kakek meninggal sejak kakak pertama Dewi berusia 2 tahun.

Mata Dewi menerawang. Wajahnya muram, berbeda dengan foto-foto sumringah saat ia masih mengenakan seragam SMP dan SMA di Pondok Pesantren al-Azzamiyah dengan teman-temannya. Dewi termasuk gadis genius, ia menjurai ranking sejak kelas satu SMP hingga ia lulus SMA dan mendapatkan gelar siswa terbaik sepondok pesantren. Dalam seminggu terakhir, ia memasrahkan diri pada peristiwa yang mengalir. Yang berbisik bahwa hidup ini sudah tamat. Sejak ibunya meninggal dan bapaknya pergi meninggalkan rumah serta anak-anaknya.

Pintu rumahnya diketok, seseorang menyodorkan surat padanya. Belum sempat lidahnya mengucapkan kata-kata bertanya, dari siapa surat ini? Untuk siapa surat ini? Laki-laki itu berbegas pergi tanpa kata. Ia baca isi surat itu dengan penasaran, matanya menyala. “Aku kangen kalian anak-anakku.” Ternyata hanya sebait kalimat yang tertera.

Oh, bedebah macam apa yang selalu membuatku marah? Tak hanya ketika ku dengar cerita bahwa dia pergi meninggalkan kami dengan alasan ingin menikah lagi. Seperti binatang saja, setelah ibu tiada, dan kami tumbuh besar, saat itu aku masih bayi, kau pergi begitu saja menelantarkan kami dan nenek. “Kau laki-laki tidak bertanggung jawab, pengecut, brengsek.” Dewi memaki dalam hatinya.

Sesaat Dewi rapuh dengan keadaan yang menyelimutinya. Ia menyalahkan diri sendiri, “Andai saja aku tidak dilahirkan, mungkin ibu masih hidup bersama nenek dan kakak-kakakku. Tuhan, kenapa aku harus dilahirkan?”. Dalam hatinya ia berontak, dalam kesunyian ia menangis, ia memaki dirinya sendiri. Seketika Dewi teringat ucapan nenek bahwa ibumu belum meninggal, dia hanya berpindah tempat dan sedang menunggu kalian di firdaus.

Semenjak ia masuk dalam dunia pendidikan lebih tinggi, kehidupannya dihiasi tentang pelajaran dan buku-buku yang dibacanya. Ingatan itu membuat Dewi beranjak ke perpustakaan pondok pesantren dan mengambil kitab fiqih muslimah di rak nomor dua. Nama pengarang itu, adalah Robiatul Adawiyah. Buku pertama yang dia baca saat mondok dan waktu itu tanpa sengaja ia mengambil untuk ditaruh kembali di rak karena jatuh dilantai. Sebelumnya, ia sempat membaca pengarang beserta biografi buku tersebut. Sontak hatinya tertegun, sederet pertanyaan mengawang-awang dalam pikirannya. “Apakah penulis buku ini benar ibuku?”.

Diam-diam ia bawa buku itu dan ditanyakan pada nenek. “Ibumu orang hebat Wi. Dia penulis, penceramah, pandai mengaji” Ucap nenek waktu mengunjungi Dewi di Pondok. Ibu sangat genius, sebenarnya sudah banyak karya tulis ibu yang dijadikan refrensi mahasiwa tingkat akhir jurusan syariah di Pondok. Namun, sebab peristiwa kebakaran yang menghanguskan banyak buku-buku di perpustakaan, akibatnya banyak pula karya tulis ibu yang teralalap api.

Kini hatinya terguncang setelah kakak pertamanya, Faisal menikah, dan tinggal bersama istrinya. Hanya sesekali menyambangi adik-adiknya dan nenek. Sebulan selanjutnya, kakak kedua, Aldi pun turut pergi meninggalkan rumah ikut dengan saudara dari ibu, ia tinggal dan menetap di sana. Kini, tinggal Dewi, Aldo dan nenek.

“Aku masih terlalu dini untuk kalian tinggalkan. Aku masih sangat membutuhkan kasih sayang kalian. Tapi kenapa semuanya pergi?, Ka Aldo pun jarang di rumah, kadang pulang itupun hanya numpang ganti pakain saja. Semuanya bedebah!”. Air matanya mengucur deras, memaki-maki dalam hati, ia marah, ia marah pada semua orang, ia marah pada keadaan, ia marah pada dirinya sendiri.
***
Di depan rumah Anggi, sepupunya, yang lahir dari rahim Bu Lisa, adik ibunya Dewi. Ia menyaksikan kebahagian saat ke-enam anak-anak Bu Lisa sedang berkumpul, senda gurau. Sesaat melihat kebahagiaan itu, Dewi melangkah cepat masuk ke rumahnya, sebidang kaca cukup lebar ia hantam dengan tangannya dan berdarah. “Tuhan tidak Adil.” ucapnya lirih dengan nada marah.

Dewi yang sudah menginjak masa remaja, 18 tahun kini usianya. Selalu membanding-bandingkan dirinya dengan sepupunya, Anggi yang lebih tua 2 tahun darinya. “Kamu lebih beruntung Nggi, keluargamu utuh. Ibumu masih hidup, bapakmu pun masih tinggal serumah denganmu. Sedangkan aku, ibuku mati gara-gara melahirkanku, bapakku pergi ketika aku masih 3 bulan. Lalu apa lagi yang kau risaukan Nggi?” ucap Dewi menggerutu dalam hati. “Walaupun aku tau betul silsilah keluargamu, tapi setidaknya kamu menikmati kebahagiaan itu”.

Lamunan Dewi terputus oleh suara seseorang yang menegetuk pintu kamarnya. Dilihatnya Nenek yang seluruh rambutnya memutih, keriput wajahnya semakin tua. Matanya mulai sayu. Nampak jelas tubuhnya renta. “Sini, nenek ceritakan.” sambil menarik lenganku dan duduk di bale bambu peninggalan ibu.
“Kamu itu cucu nenek yang sangat beruntung. Kamu perempuan pilihan tuhan. Kamu perempuan yang paling bahagia di dunia dan akherat nanti.” sesekali nenek menyeka air matanya. “Coba kau bandingkan dengan saudara-saudaramu, dengan sepupu-sepumu, dengan teman-temanmu. Mereka hanya mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya dan saudara-saudaranya. Mereka hanya bahagia di dunia saja Wi.” ujar nenek menenangkan hatiku. “Kau lihat kakakmu Faisal, sakit-sakitan terus, sudah jarang dia menjenguk kita. Kakakmu Aldi, turut pula merawat budemu yang sedang di rawat. Aldo, entah kemana ia pergi. Kadang pulang ke rumah, kadang tidak.” ungkap nenek menjelaskan.

“Kau Dewi, kau perempuan yang di asuh langsung oleh tuhan. Kau, perempuan yang mendapatkan kasih sayang langsung dari tuhan. Kau, perempuan  paling beruntung dari semuanya. Nenek hanya perantara saja mengasuhmu Wi. Di balik semua ini, adalah kasih sayang tuhan, rahmat tuhan. Jangan pernah kau menyalahkan dirimu atas kematian ibumu karena melahirkanmu. Janganlah iri dengan kehidupan orang lain cucuku, kebahagian di dunia hanyalah sementara, tak ada yang abadi” Tambahnya.
***
“Apa lagi yang ingin kamu ketahui tentang dirimu, Wi?.”. Tiba-tiba seorang lelaki tanggung melemparkan tanya padanya saat Dewi sedang melamun di warung kopi bu Inah. Matanya memburu sumber suara itu. Siapa? pikirnya mengawang, hatinya penasaran, sibuk kepalanya tengak-tengok ke kiri-ke kanan-ke belakang.
“Ini ada surat untukmu.” lelaki itu bergegas pergi setelah menyodorkan surat.
Aku pergi bukan karena tidak sayang kalian, anak-anakku. Aku rindu, aku kangen kalian. Nenek, Faisal, Aldi, Aldo dan kau Dewi, gadis permata hatiku. Yakinlah, bahwa aku setia menunggu kalian di pintu Firdaus. Dengan menulis bait-bait rindu ini untukmu. Aku tulis sajak ini, hanya untuk memberitahumu bahwa kalian lebih indah dari apapun. Aku tulis sajak ini, hanya untuk membuatku ada dalam pikiranmu. Aku mencintaimu.
“Dariku yang melahirkanmu”.
Jakarta, 19 Januari 2016

Perempuan adalah Manusia Pertama

Belum terlalu lama, sejak aku menyandang predikat sebagai aktivis, dinamika kehidupan perlahan berubah. Bukan hanya perihal perjalanan dan rintangan, namun juga uang jajanku tiap minggu ikut-ikutan berubah. Lha apa hubungannya dengan uang jajan? Macam anak sekolah pindah tingkatan saja, uang jajan harus naik level dari tingkatan sebelumnya. Rupanya semua didasari oleh bakat bawelku yang sudah mendarah daging, begitulah kira-kira pemahaman yang kudapati.

Setelah beberapa kali pertemuan, rupanya ada satu sosok yang diam-diam mengagumiku sebagai aktivis, yang juga aku mengaguminya karna sosoknya yang tegar lagi bijaksana. Ya, dia adalah laki-laki berstatus Ayah.

Kita memang tak begitu akrab layaknya hubungan Orangtua dan Anak, apalagi keberadaan kita yang tak pernah satu atap. Lha kita malahan layaknya Dukun dan Pasiennya, aku menghampirinya bila ingin berkonsultasi perihal teka-teki pertanyaan. Dimana, sering aku jumpai dari teman-teman komunitasku yang pikirannya suka nyeleneh. Begitu memang Mahasiswa, kalau tak nyeleneh tak disebut Maha nantinya.

Bermula sejakku dapati pertanyaan “Apa yang dilakukan oleh Adam dan Siti Hawa ketika mereka dipisahkan dan ditempatkan dibumi selama sekian tahun?”. Pertanyaan yang hendakku lontarkan padanya kala itu. Dengan lantang pria setengah abad ini menjawab “Ngojek palingan”.

Jangkriiik, pikirku makin tak karuan. Jawaban macam apa bila dilihat tingkat kualitasnya makin nyeleneh. Pikirku polos, “bukankah sesuatu yang telah dipisahkan, sejatinya mereka akan saling mencari layaknya sepasang kekasih yang saling mencinta?”.

Belum selesai aku tenggelam dalam lamunan, pria setengah tua ini menengahi alam sadarku. Semua yang hendak keluar dari pemikirannya tak lebih bersumber dari Surat anu dan Ayat sekian. Begitulah kira-kira. Aku hanya terfokus mencatatnya, sebab telahku sadari bahwa kebiasaan lupaku sudah semakin akut.
Sesekali ia hanya memerintahkanku untuk mencari bentuk tafsiran dan memahaminya matang-matang. Belum selesai aku memaknai ayat-ayat yang hendak terlontar, tanpa jeda ia meneruskan pertanyaan “Siapa manusia pertama?”. Jawabku cepat “Yha jelas Nabi Adam lah”, ia membalas “Sumbernya dari mana bisa-bisanya kamu jawab Nabi Adam?”. Dengan tampang setengah cengengesan aku memberanikan diri untuk menjawab “Dari si anu, anu dari si anu…. Sampai Z”.

Tak jarang jemarinya hendak menepuk-nepuk pundakku. Entah itu sebuah isyarat atau hanya gerakan biasa, yang jelas ada pesan tersandung, pertanda akan ada obrolan serius.

Benar saja. Belum selesai aku termangu kebingungan, bibirnya berdalih membacakan ayat-ayat. “Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Nabi Isa As sama seperti Nabi Adam As”. Semua bersumber murni dari pedoman kitab yang kita yakini yaitu Al-Quran (Al-Imran; 59).

“Jadi siapa manusia pertama?”, tanyanya tegas. “Berarti manusia pertama Perempuan dong”, jawabku setengah ragu. “Kenapa?”, rupanya ia mencoba ruang pikiranku untuk bersua dengan bertanya kenapa. Tanpa jeda aku membalasnya “Lha iya, kalau perumpamaan (penciptaan) Nabi Isa As seperti Nabi Adam As, berarti Nabi Adam As punya Ibu dan ia dilahirkan, namun tak punya bapak”. “Mungkin, bisa jadi” jawabnya santai.

Tak sampai disitu, ia berusaha membuka pembuktian lagi. “Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam)” (Annisa; 1). Tanyaku cepat “Bagaimana maksudnya?”. “Kalau kita simak tafsiran dari ayat tersebut, kata-kata (Waahidah) tersebut merupakan bentuk dari (ta’ muannas) yang berarti perempuan. Sedang isi ayat tersebut berisi tentang penciptaan Adam dari diri yang satu yaitu bila ditafsirkan adalah (Perempuan)”.

Diam-diam aku menghela nafas pertanda otakku mulai kenyang. Namun lagi-lagi ia menyerangku balik, seakan ingin memaksaku untuk berpikir cepat. Belum usai asap mengepul dari bibirnya, ia kembali menjelaskan, “Karna sesungguhnya, sebelum adanya Adam As, sudah adanya manusia dan kehidupan”. “Lha masa?” Tanyaku lagi.

Belum sempat pertanyaanku dijawab, ia sudah lebih dulu menengahi pembicaraan, pertanda sudah waktunya aku bergegas pulang. “Semata-semata ini adalah sebuah bentuk pembelajaran, tak perlu diperdebatan, tetap menjadi bocah tua, Nak”, ucapnya sedikit manis.

Senin, 03 April 2017

31 Januari 2016

Sajak
"31 Januari 2016"

31 Januari
Di atas puncak alam

31 Januari
Untuk mentari dan lintang.
Berada di ketinggian berkelut dengan rasa yang penuh kesyahduan.

Berkata dengan hati menyatukan perasaan.

Dari malam yang syahdu terima kasih ku pada alam, telah kau satukan dari segenap perbedaan.

Dalam dinginnya malam aku tanamkan kerinduan yang tak pernah usai.

31 Januari
Untuk kesan pertama,
Ku sambut mentari bersama mentari.
Aku mencintai mentari dengan sederhana.

31 Januari
Sajak cinta ku tertanam dalam hati mu.
Aku mencintai mu dalam diam.

Dan aku menyayangi mu dengan sederhana.

Meminang Keberanian

Sajak
"Meminang Keberanian"

Bahagia tak layak menjadi jaminan
Bila bahagia masih menjadi sebuah kemungkinan
Kemungkinan hidup yang saling bergantungan.
Hidup adalah keberanian.
Keberanian hujan dengan sejuta alasan
 Tanpa tahu yang berada dalam gendongan
Yang berada ditepi jalan.

Seperti gula,
Manis
Larut
Dan mengendap dalam gelas.
Wujudnya tak lagi menarik
Namun rasa adalah penggoda
Darinya keberanian tercipta.

Sementara,
Memandu jalannya kenangan
Tak menuntutmu untuk memberi
Dan lekas tuk disudahi.
Sebab, lelaki separas apapun
Tak akan menarik jika terluka.

Menimang-nimang kenangan
Sungguh membuatku kerepotan
Kenangan menjadi tumpukan bergilir
Dan air mata hanya akan terus mengalir.

Kenangan menjadi sangat luber.
Semua orang sibuk merawat dan menghias kenangan.
Sayangnya, kenangan tak bisa diganti orangnya
Dan tak bisa diubah rasanya.

Jakarta, April 2017

Kelabu

Sajak
"Kelabu"

semalaman tadi gelap kau bungkus dengan nada-nada
ketika nyanyianmu mulai bermakmum
entah minor atau mayor
setiap miliaran nada-nada adalah doa
kerap doa menjadi semakin lebih kuat bersamaan dengan petikan.

aku mulai membayangkan menjadi senar
aku adalah senar
yang dapat kau petik dan kau raih
yang terkadang dapat memancing dan mania.

tak lekas dengan irama
malam berdesakkan dengan warna-warna
bukan hitam, putih apalagi kelabu
melebihi pelangi
ia adalah warna-warni.

nyanyianmu bukan lagi pujian dan rayuan
apalagi yang menjanjikan
sebab kita tak lebih hanya sebatas saja
saat Tuhan membolak-balikkan segalanya.

umpama bunga
aku adalah sesuatu yang tak kau hendaki tumbuh.
umpama bunga
aku adalah yang tak kau hendaki adanya.

kau batasiku dengan tembok ketakutan
bunga-bunga tak lagi indah
sudah jauh dengan hakikatnya
pasalnya, bunga menjadi sekuntum kemurkaan.

diujung sajak
kebermutuan cerita hanyalah sia-sia.

jakarta, 28 Feb 2017

Timang-Menimang Harga Takdir

Sajak
“Timang-Menimang Harga Takdir    ”

Malam terasa lebih panjang dari biasanya
Bukan karena mataku tak jua mengantuk,
Aku mendapatinya setelah kepergianmu.
Ruang kesunyian terbangun dari tidurnya
Setelah kau bunyikan irama tak berirama yang hendak kau salurkan.
Pertanda tak ada lagi mimpi-mimpi yang akan kau jabarkan setiap malamnya diakhir pertemuan kita.
Entah tak pantas lagi untuk dihuni,
Atau  hendak kau gadaikan mimpi-mimpi kita?

Kalau begitu, kemana aku harus menebusnya?
Dengan cara apa aku menebusnya?
Haruskahku jual saja cintaku yang bajingan ini, untuk menebus mimpi-mimpi kita yang terlanjur digadai?

Aku khawatir mimpi-mimpi kita menjadi mimpi amatiran,
Atau itu bisa-bisanya dia saja?
Bedebah!
Kemarin sudah kau rampas paksa perihal jarak dan waktu.
Sekarang hendak kau kuasai mimpi-mimpi kami.
Kalau begitu, kenapa tidak sekalian saja kau renggut nyawaku ini?

Nampaknya Tuhan sedang bercanda lepas
Atau dia bermaksud menghukumku sebab sajak-sajakku belum selesai khilaf?
Kepada yang Maha membolak-balikkan hati setiap makhluk,
Tengoklah kembali, usianya saja sudah akut.
Apa kau tak juga kasihan melihatnya sendirian?
Kalau kau kesusahan untuk membantunya,
Aku bersedia membantumu, Tuhan.
Sekalipun harus aku yang menjadi calon pinangannya.
Bagaimana?
Aku baik bukan?
Tak usah repot menghadiahiku dengan janji syurga.
Aku sudah cukup akrab dengan ibadah.
Tak perlu berterimakasih,
Anggap saja ini sebagai permulaan hubungan bisnis kita.
Setidaknya kau takan benar-benar kecewa, dan pantas untuk memercayaiku,
Sebab, ibadahku bukan lagi berisi amarah, tapi akan lebih bergairah.
Bagaimana tak indah,
Kalau lima kali dalam sehari aku mengikat imanku dengan imamku dan aku meng-Amin-inya.

Tuhan Maha Seru.

Mendewasakan raas-a

Siang itu menjadi siang hari yang begitu menyengat bagiku, bukan karena cuaca yang tidak bersahabat, bukan juga karena aku memakai baju teba...